Rabu, 23 Juni 2010

TUGAS KELOMPOK - UAS - INDERA, RASIO DAN INTUISI

Indera dan rasio, dan Intuisi
Pertama bagi indra dan pengalaman manusia memang berada dalam keadaan yang begitu kompleks. Sementara itu, alam yang tak bisa dipahami, meskipun pemahaman itu, sungguh bukan alam yang bisa dimengerti. Kompleksitas data itu mengobarkan dalam benak manusia kerinduan akan penjelasan yang sederhana, yang bisa membantunya bertahan hidup.

Sebelum penjelasan yang sederhana itu diperoleh, manusia dan leluhur primatnya mengandalkan kelangsungan hidup pada indranya, pada apa yang langsung dilihat oleh matanya, pada apa yang langsung didengar oleh telinganya, pada apa yang langsung dirasakan oleh kulitnya. Nalar memang belum banyak digunakan, dan kalaupun dipakai maka itu lebih berupa nalar indra, yakni nalar yang disusun dengan mengandalkan data-data spontan indrawi. Nalar indra adalah nalar asosiatif yang
cenderung mengaitkan sebuah tanda dengan peristiwa yang kaitan logisnya bisa sangat lemah, atau dasar pemikiran yang sangat rapuh.

Secara linguistik, "nalar indra" merupakan oksimoron (contoh lain: cahaya gelap), sementara "nalar dunia" adalah pleonasme (contoh lain: cahaya terang). Sebagaimana tak ada cahaya yang benar-benar gelap, begitu juga tak ada makhluk hidup yang tak bernalar karena bahkan organisme bersel tunggal pun, dengan "sistem indra"-nya yang sederhana, terbukti memiliki penalaran sendiri yang membuatnya bisa meneruskan arus genetiknya di tengah dunianya yang terbatas. Kegiatan indra memang tak
punya kekuatan dengan penalaran logis. Indra mengaitkan diri pada trauma dan prasangka yang tak
harus logis. Sementara kegiatan nalar adalah kegiatan yang dengan sendirinya membangun struktur, dari struktur yang sederhana ke struktur yang kian nyata.

Jadi, indra itu terbukti berguna terutama ketika informasi lingkungan tidak jelas peristiwa-peristiwa terjadi seakan tanpa kaitan yang jelas.Kejadian alam, memang menunjukkan sejumlah keteraturan, lewat perubahan siang dan malam, pertukaran musim, lewat kelahiran dan kematian. Pengamatan dan ingatan atas keteraturan itu memberi jalan pada manusia untuk memahami kaitan-kaitan antarperistiwa, membaca tanda-tanda.

Potensi manusia untuk memahami dan mengembangkan ilmu pengetahuan, adalah berupa :
1. Indera eksternal, atau yang biasa dikenal dengan panca indera, dimana dengan indera ini pengamatan dan ekperimen dapat dilakukan;
2. Intelektual, atau biasa disebuat dengan rasio (logika), dan tentunya yang tidak dikotori dengan sifat-sifat buruk yang menguasai kehendak-kehendak dan khayalan-khayalan, serta bebas dari peniruan buta (taqlid);
3. Inspirasi, hal ini berada diluar dari kemampuan nalar manusia, karena datangnya atau kehadirannya bisa begitu saja datang atau secara tiba-tiba saja terbesit di dalam benak kita (tanpa proses pembelajaran) .
Ketiga potensi yang ada pada manusia diatas, saling menunjang antara satu dengan yang lain. Indera untuk mengamati atau observasi terhadap gejala-gejala alam, kemudian rasio untuk berfikir tentang rahasia di balik fenomena alam yang beaneka ragam, dan imajinasi untuk mengembangkan hasil- hasil penemuannya dan dari hasil penemuan-penemuan yang diperolehnya itu, selanjutnya diolah, diteliti lebih lanjut, dan yang kemudian diterapkan menjadi teknologi seperti yang ada sekarang ini, salah satunya adalah apa yang sedang kita pergunakan saat ini (internet).
Ada pula satu lagi kelebihan manusia yang tak dimiliki makhluk lainnya yaitu dinamakan intuisi atau pengilhaman. Walaupun seringkali dianggap orang sebagai sesuatu yang gaib/abstrak, namun cara kerja intuisi ini dapat dibuktikan secara logika dan empiris. Hanya saja pembuktian secara empiris lebih sulit dilakukan. Karena pada umumnya intuisi tidak terkelola dengan baik hanya bersifat spontanitas saja. Pembuktiannya juga lebih sering bersifat kejadian spontanitas sehingga dianggap kejadian yang kebetulan semata yang tidak ada hubungannya. Sering orang – orang menganggap bahwa intuisi sama dengan perasaan (feeling).
Intuisi memiliki ciri-ciri seperti:
1. terjadi tanpa kita sadari dan tiba-tiba
2. biasanya berasal dari alam bawah dasar
3. terjadi pada situasi yang tak diperkirakan dan jarang terjadi
4. tajam tidak tajamnya tergantung pada pengalaman seseorang
5. intuisi akan muncul dibarengi dengan perasaan yang aneh atau perasaaan ada sesuatu yang tak beres.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar