Rabu, 21 April 2010

Pembangunan Sosial Budaya

Pembangunan Sosial Budaya
Pada jaman ini masyarakat sangat berperan dalam hal pembangunan sosial budaya, tanpa masyarakat pembangunan tidak akan terjadi, tetapi entah mengapa pemerintah seakan-akan tidak peduli bahkan dengan semena-mena merebut apa yang menjadi milik rakyat, tanpa rakyat dapat menolak apa yang sudah menjadi keputusan pemerintah tersebut, seperti halnya masalah ‘Priok Berdarah’ masyarakat menjadi marah dan melawan pemerintahan untuk membongkar kuburan yang dianggap keramat tersebut, tetapi pemerintah hanya dapat berempati dan berusaha membangun kerusakan-kerusakan yang terjadi, banyak korban jiwa yang berjatuhan baik dari satpol pp maupun dari masyarakat, dan menurut saya hal seperti ini tidak akan terjadi apabila pemerintah mau peduli dan mendengarkan aspirasi masyarakat, tidak hanya mengambil lahan semena-mena demi kepentingan komersil saja.
Pembangunan Sosial dan Otonomi Lokal
Pemerintah harus melihat apa yang dibutuhkan untuk kebaikan masyarakat dan negara.
Mentalitas Masyarakat Statik yang cenderung merasa dirinya selalu baik di masa lalu, melihat kebelakang tanpa terfokus ke depan dan melihat yang lebih baik,sehingga tak ada motivasi yang membangun, cenderung menyerah pada nasib menganggap dirinya sudah tidak berguna dan tidak mau berusaha, masyarakat Indonesia juga cenderung kurang kreatif dan inovatif, tidak adanya semangat untuk menciptakan hal-hal yang baru.
Karakter Masyarakat Statik
• Sifat indolent, lamban atau malas, banyak orang tidak merasa dikejar waktu . Beranjak dengan cepat pun tiada gunanya karena keseluruhan sistem sosial tidak mendukung atau memberikan perangsang baginya.
• Pola pikir tidak menghargai waktu atau menguasai waktu berjalan linier pula dengan pemikiran diakronik ataupun cyclus.
Mentalitas Statik masyarakat Indonesia cenderung lebih menilai tinggi dan mempertahankan adat istiadat dan aturan serta prosedur tanpa mengikuti perkembangan jaman, masyarakat Indonesia Kurang sadar mutu , karena terlampau terpikat pada apa yang sudah ada dan dianggap terbaik, maka mentalitas bekerja asal selesai dan asal ada hasilnya sangat menonjol, tertutup, kurang terbuka pada yang lain atau yang datang dari luar merupakan sikap dan perilaku yang khas, hal ini membuat bangsa Indonesia menjadi lambat untuk menerima budaya modern saat ini karna ciri khas boleh ada, tetapi bukan harus menjadi tertutup dan buta terhadap budaya lain, Pikiran atau pandangan dan cara – cara alternatif sebagai bahan pengambilan keputusan kurang dikenal dan agak sulit meyakonkan pada orang bermentalitas tradisionalistik, cenderung kuno dan kolot sehingga menurutnya apa yang mereka lihat, percaya dan pikirkan terhadap kebudayaan kita adalah yang terbaik, selain dari itu dianggap tidak penting,Mentalitas kebersamaan sangat menonjol dibanding individual . kebersamaan itu sendiri sebagai sikap dan perilaku memang mengandung nilai – nilai yang baik , Indonesia juga memiliki rasa kebersamaan yang tinggi, Namun jika direntang terlampau jauh, memang menimbulkan mentalitas Konformisme dan penyakit ketergantungan serta mematikan sikap kemandirian.sering terjadi kekerasan yang kami sadari sampai saat ini, perang antar suku,kerusuhan, dan sebagainya.
Pada kesimpulannya bahwa pembangunan sosial budaya di Indonesia masih sangat buruk, Indonesia tidak pernah luput dari kemiskinan, konflik, pemaksaan, kekejaman pemerintahan, dan sebagainya. Hal ini membuat kami sedih karena bukan ini yang rakyat inginkan, melainkan kedamaian dan kesejahteraan bersama.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar